Categories

Blog

Homeschooling di Jerman – Ini tugas sekolahnya, tolong dikerjakan dan dikoreksi sendiri (Part 1)

Seperti di Indonesia, di mana orang tua, murid dan guru menghadapi masalah dengan kegiatan belajar mengajar di masa pandemi ini, begitu juga hal tersebut dialami di negara Jerman seperti yang diberitakan di sebuah artikel dari koran Süddeutsche Zeitung (SZ).

Para pembaca koran SZ melaporkan tentang tantangan-tantangan yang terjadi selama belajar di rumah… dan momen kegembiraan yang tak terduga di dalamnya.

Gedung sekolah sedang ditutup sementara, tetapi kelas tetap berjalan secara digital. Setidaknya itulah yang dikatakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jerman untuk masa krisis Korona ini. Andaikan saja semua bisa semudah yang dikatakan itu.

Banyak guru sudah melakukan upaya semaksimal mungkin, tetapi kekurangan peralatan teknis di sekolah untuk pembelajaran jarak jauh merupakan sebuah masalah. Dan tanpa bantuan orang tua, pembelajaran jarak jauh tidak akan bisa berhasil – tetapi bagaimana jika tidak hanya ruang kelas anak-anak tetapi juga tempat kerja ibu dan ayah dipindahkan ke rumah? Dan bukan hanya jam pertama tetapi juga konferensi video penting dengan kolega kerja dari orang tua? Kami meminta para pembaca untuk melaporkan pengalaman mereka dengan apa yang mereka sebut dengan “Homeschooling”.

Pengalaman pertama dari seorang ibu :

Multitasking

Pekerjaan kantor vs. “Homeschooling”: “Dengan cepat saya mematikan mikrofon pada waktu saya mendengar anak saya menangis.” – Berikut seorang ibu menceritakan pengalamannya bekerja dan mengurus anaknya. 

Jam delapan pagi, saya sedang akan melakukan konferensi Skype di pagi hari dengan rekan-rekan kerja saya. Tetapi saya mendengar anak saya mulai merengek. Untuk berjaga-jaga, saya belum mengaktifkan kamera saya. 

Saya mencoba mengabaikan rengekan anak saya di kamar sebelah. Para kolega sedang berbincang-bincang tentang bagaimana si sekretaris yang berbaik hati menyirami tanaman-tanaman di kantor sementara kami bekerja di rumah. Saya cepat cepat membisukan mikrofon di komputer saya.

“Ada apa?” ​​Teriakku ke kamar sebelah. Anak saya harus menggunakan mesin pencari khusus bagi anak-anak untuk meneliti informasi di internet untuk tugas sekolahnya. Misalnya, dia harus mencari tahu berapa panjang kapal Gorch Fock (di Indonesia kapal Dewa Ruci) atau mencari tahu apa nama dari pulau terbesar di Jerman. Tetapi anak saya tidak menemukan apapun di mesin pencari ini dan ketika saya mencobanya sendiri, hasilnya nihil pula. 

Saya segera mengganti mesin pencarian dengan settingan dewasa pada Google dan melakukan riset dengan tergesa-gesa untuk membantu dia. Tiba-tiba nama saya muncul di panggilan Skype, “Jenny, ada apa?”

Sial, saya tadi tidak mengikuti dan mengerti apa yang dibicarakan. Saya dengan cepat menyalakan mikrofon. “Ya, ya, saya akan segera mengurus hal ini”.

Saya segera mematikan mikrofon lagi sementara anak saya masih terus menangis karena kami belum menemukan apapun. Saya harus segera menelepon kolega saya nanti dan bertanya tentang apa yang dibicarakan itu tadi.

Untuk pengalaman berikutnya

Post A Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *